beautiful cat

beautiful cat
think about something that I like

Kamis, 04 Februari 2010

short story 1

ANTARA OBSESI DAN PERASAAN

Aku merebahkan badanku diatas kasurku. Pandanganku mengarah pada langit-langit kamar. Udara sejuk sore hari yang bersahabat segera membuatku merasa nyaman dan membawaku dalam lamunan yang indah. Aku teringat peristiwa manis yang kualami 3 minggu lalu. Sungguh indah memang bahkan lebih indah dari bunga sakura yang bermekaran di musim semi. Saat itu, sejuk seperti saat ini aku menemui sahabatku dirumahnya. Disana ia bersama seorang laki-laki, cakep memang. Sahabatku tidak memperkenalkan kami, aku dan laki-laki itu hanya saling berpandangan dan entah mengapa tidak ada inisiatifku untuk mencoba berkenalan dengannya. Aku tahu dia tidak dapat melepaskan pandangannya dariku. Sampai akhirnya sekitar 2 jam berlalu aku memutuskan untuk pulang dan selama itu pula aku hanya berbicara pada sahabatku, Inggrid. Keesokan hari setelah peristiwa itu, Inggrid menemuiku disalah satu taman tempat kami bersekolah. Dia bilang padaku bahwa laki-laki yang ada dirumahnya kemarin mengagumiku dan ingin berkenalan denganku. Hatiku bahagia bukan main, senyumku merekah bak rembulan. Tapi sesaat kemudian senyumku mulai luntur, aku teringat akan harapan serta obsesiku. Aku adalah seorang gadis yang sangat mengagumi semua hal yang berhubungan dengan Jepang. Bagiku semua hal yang berhubungan dengan Jepang sangatlah menarik, termasuk untuk masalah kekasih. Aku sendiri merupakan hasil cinta dari percampuran Indonesia-Jepang. Banyak teman-temanku mengatakan bahwa aku tidak nasionalis, bagiku semua itu tidak benar karena bagaimanapun juga aku tetap bangga bisa lahir, hidup, dan menjadi bagian di negeri ini, Indonesia. Sejurus kemudian aku terkejut saat Inggrid mengepalkan tangannya dibahuku. Ia melanjutkan kata-katanya, laki-laki itu ingin menemuiku siang ini juga usai pulang sekolah. Aku masih memikirkan obsesiku tapi hati kecilku mengatakan tidak ada salahnya juga kalau aku berkenalan dengan laki-laki itu, kalaupun tidak sesuai dengan yang aku inginkan toh aku masih bisa berteman dengannya. Akhirnya, aku mengiyakan tawaran Inggrid. Tak lama kemudian, aku dan Inggrid menunggu di salah satu café di kota kembang ini. Hingga sekitar 10 menit berlalu sosok laki-laki yang kujumpai di rumah Inggrid muncul. Dia terlihat sangat tampan, mengenakan blues merah menyala dipadu celana jeans biru tua membuat penampilannya benar-benar mengagumkan.
Watashi wa Reiko Kanata desu“.
Aku dibuat panas dingin oleh kata-katanya. Ya Tuhan apa aku tidak salah dengar? Dia mengatakan dalam bahasa Jepang, apakah dia seorang Jepang? Ah… mudah-mudahan saja seperti itu.
Watashi wa Reiko Kanata desu“.
Aku terkejut dan mulai sadar kalau aku belum membalas perkenalannya. Secepat kilat aku memasang mukaku dengan senyum indahku dan mengulurkan tanganku sambil berkata “Watashi wa Alice desu“.
Dozo Yoroshiko“, ucapnya.
Sejak saat itu, hari-hariku terasa indah bersamanya. Dia seperti yang kuharapkan, Reiko Kanata adalah orang Jepang asli yang sudah 14 tahun tinggal di Indonesia. Saat ini, ia tinggal dan kuliah juga di kota ini, sedangkan orangtuanya tinggal di luar kota. Aku jadi tahu kenapa Reiko lancar berbahasa Indonesia walaupun saat perkenalan dia menggunakan bahasa Jepang. Hmm… mungkin saja dia mau pamer. Hingga akhirnya 3 hari yang lalu kami meresmikan hubungan ini sebagai sepasang kekasih.

* * * * *

Pintu kamarku terbuka, seketika itu juga aku terbangun dari lamunanku dan sejurus kemudian kulihat wanita berusia sekitar 40 tahunan datang dari balik pintu. Badannya tinggi semampai, kulitnya putih bersih persis dengan kulitku.
“Nona cantik, pangeranmu sudah datang“.
Aku masih terdiam.mencoba mencerna kata-kata ibuku barusan. Mungkin pikiranku masih enggan kembali karena terlalu menikmati kisah yang begitu indah dalam hidupku. Sampai beberapa detik kemudian, aku berhasil menguasai diriku. Yah, ini hari Reiko akan mengajakku jalan-jalan.
Dengan kekuatan penuh aku bangun dari kasurku, bergegas mengganti bajuku dan berlari secepat ‘Stephen Chow dalam kungfu Hustle‘ menuruni anak tangga untuk segera menemui Reiko.
“Hai“, sapaku padanya.
Ia pun menjawab, “hai juga“. Suaranya yang merdu semakin menambah indahnya sore ini. Dia sangat dan sangat-sangat tampan. Sepertinya, aku harus berterima kasih pada sahabatku, Inggrid. Aku merasa bahwa karena dia aku bisa mengenal sosok Reiko Kanata walaupun kadang aku masih bingung kenapa sebelumnya Inggrid tidak pernah cerita padaku bahwa ia mempunyai teman dari Jepang. Padahal, Inggrid tahu kalau aku sangat terobsesi terhadap segala hal mengenai Jepang. Ah… tak apalah mungkin Inggrid takut kalau aku tidak akan percaya pada kata-katanya. Sekali lagi terima kasih, Inggrid.
“Kau tampak cantik hari ini, Alice”.
Aku dibuat terpana oleh kata-katanya. Yah, itulah Reiko. Aku tahu kalau pujian seperti itu sangatlah biasa tapi aku merasa menjadi orang paling bahagia di dunia jika Reiko yang mengatakan hal itu. Dia memang pandai mencuri hatiku. Tapi…. Apakah mungkin kemarin-kemarin aku tidak terlihat cantik???
“Oh ya? Memangnya kemarin-kemarin aku gimana?“ Reiko tersenyum, ia menarik nafas dalam-dalam. Bibir mungilnya yang tadinya terkunci rapat sedikit demi sedikit mulai membuka.
“Sangat jelek“, jawabnya.
Sontak, aku melemparkan sebuah bantal yang terletak di sofa ruang tamu ini. Aku memukul-mukulnya tanpa tenaga sedikitpun, dia tidak membalas dan hanya tertawa geli terhadap ulahku. Tawanya tak kunjung reda hingga aku sendiri capek terhadap ulahku. Aku membisu, mencoba memasang tampang sejutek mungkin. Tapi, Reiko malah menggodaku, aku tak kuat untuk terus-terusan bersandiwara didepannya.
“Alice sayang, kau memang cantik bahkan saat marahpun kau akan tetap cantik”
“Sudahlah Reiko, kau tak perlu berlebihan. Kau kesini untuk mengajakku jalan - jalan kan? Jadi kau tak perlu merayuku. OK”.
Dia tersenyum, senyumnya manis sekali bahkan lebih manis dari kembang gula yang pernah kubeli.

* * * * *

Kami pergi meninggalkan rumah tanpa ada tujuan yang jelas lebih tepatnya kami pergi dimana angin membawa kami.
Aku sangat menikmati pemandangan sore hari ini apalagi ditemani oleh orang terspesial dihatiku. Sepanjang perjalanan ini Reiko bercerita panjang lebar padaku, mulai dari awal pengalaman saat ia dan keluarganya pindah ke Indonesia dan cerita-cerita lainnya. Dari ceritanya aku dapat menyimpulkan bahwa Reiko pernah mengalami masa-masa tak menyenangkan pada awal kepindahannya. Tahu sendirikan bagaimana rasanya tinggal di negeri orang? Untungnya, semua itu bisa cepat berlalu. Aku jadi makin mengerti bahwa tak selamanya hidup itu indah tapi ya itulah hidup.
Aku segera mengalihkan pembicaraan saat Reiko menanyakan tentang sosokku yang lebih dalam, dimana tidak seorangpun tahu akan hal itu. Aku tidak suka kalau ada orang yang ingin mengorek pribadiku, sekalipun itu adalah Reiko. Aku hanya bilang padanya bahwa aku seperti yang ia lihat. Lalu, aku bilang padanya : “Bagaimana kalau kita beli ice cream?” Yah, aneh memang. Disaat dia bertanya serius padaku, aku malah mengatakan hal yang benar-benar melenceng dari pembicaraan. Untungnya, Reiko tidak mempermasalahkan. Mungkin dia sadar kalau aku tidak suka ditanya hal-hal seperti itu atau mungkin dia berpikir : “Sudahlah Alice itu terlalu pintar sampai-sampai ia tidak tahu jawaban mana yang harus keluar kalau ada pertanyaan seperti itu”. Ah…. masa bodoh. Terserah Reiko mau berpikiran seperti apa yang penting dia berhenti mengintrogasiku. Tapi, beberapa saat kemudian Reiko terlihat tak seperti biasanya. Wajahnya sangat serius akan tetapi aku tahu kalau ada keraguan dibalik keseriusannya itu. Aku mengurungkan niatku untuk memesan ice cream dan lebih memilih untuk menguak keganjilan ini.
“Aku tahu ada yang ingin kau katakan. Katakan saja, aku akan
berusaha membantumu”.
“Alice, aku memang ingin mengatakan sesuatu”.
“Ya, cepatlah katakan saja”.
“Ini tentang kita. Aku tidak ingin terus-terusan membohongimu”.
Aku tak bisa menebak apa yang ingin dikatakan Reiko. Apa maksud dari kata bohong itu? Aku benar-benar penasaran dengan semua ini. Lebih baik aku suruh dia untuk cepat bilang apa maksud dari semua ini. Yah, aku harus segera menyuruhnya, tapi belum sempat aku menyuruhnya dia mulai membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu.
“Aku tahu kau adalah seorang pengagum Jepang. Kau ingin mempunyai kekasih dari Jepang pula. Lalu, kau dan aku dipertemukan dan setelah beberapa hari dari pertemuan awal kita, kau dan aku jadian. Awalnya, aku tak tahu apakah kau menerimaku karena cinta ataukah hanya karena aku orang Jepang. Tapi, setelah beberapa hari saat kita semakin dekat aku sadar kalau kau menerimaku bukan karena aku orang Jepang tapi juga karena cinta. Apakah benar?”
“Reiko, kenapa kau bilang seperti itu? Tentu saja aku mencintaimu”.
“Maafkan aku, Alice. Aku bukanlah orang Jepang seperti yang
kukatakan, semua tentangku, keluargaku dan semua ceritaku itu
bohong”.
Aku yakin ini semua omong kosong, tidak mungkin Reiko berbuat seperti itu.
“Reiko, tolong katakan bahwa semua ini hanyalah bagian dari selera
humormu”.
“Tidak. Aku tidak bercanda, semua ini benar. Semuanya yang
telah kukatakan padamu bohong. Aku tahu tidak sepantasnya
aku membohongimu tapi aku mohon tolong maafkan aku”.
Apa?? Dia telah berbohong padaku? Aku sedih, marah, dan kecewa bukan main. Selama ini orang yang aku cintai telah berbohong tentang statusnya, tega-teganya dia melakukan semua ini padaku. Aku tidak bisa menerima semua ini. Aku tak kuat menahan emosiku, aku menamparnya, memakinya bahkan mengutuknya. Ia mencoba menjelaskan semuanya, aku bisa mendengarkan penjelasannya tapi aku tak akan bisa memaafkannya. Aku menangis, berteriak, lalu lari sekencang-kencangnya. Aku tak menoleh kebelakangpun tapi aku bisa merasakan bahwa Reiko mengejarku. Tak akan kubiarkan Reiko mendapatkanku, aku benar-benar benci padanya dan aku harus terus berlari agar aku tidak melihatnya lagi. Lariku semakin kencang, begitu juga dengan air mataku yang deras mengalir. Tak kuhiraukanlagi saat orang-orang di jalanan melihat keadaanku yang mengerikan ini.

* * * * *

Semalam setelah kejadian itu berlalu. Aku berusaha tidak menampakkan kesedihanku pada teman-temanku.
“Alice“.
Aku menoleh, dan ternyata itu adalah suara Inggrid. Inggrid mencoba berbicara padaku, ia mencoba untuk membuatku memaafkan dan menerima Reiko kembali. Aku jadi tahu kenapa selama ini ia tidak pernah cerita padaku bahwa ia mempunyai seorang teman dari Jepang, itu semua karena memang ia tidak mempunyai teman dari Jepang. Laki-laki itu bukanlah Reiko Kanata tapi Henry Haryanto, seorang dari Manado yang ayahnya merupakan keturunan Tionghoa. Reiko menyukaiku sejak awal kami bertemu dirumah Inggrid, hingga akhirnya dia mengubah namanya menjadi Reiko Kanata.
“Alice, aku rasa kau tak bisa marah seperti ini hanya karena dia tidak seperti yang kau inginkan”.
Aku hanya diam. Mungkin, aku masih bisa memaafkannya kalau ia bukan orang Jepang karena bagaimanapun juga tidak semua obsesi itu bisa tercapai. Tapi, ini sudah keterlaluan. Reiko tidak hanya bohong tentang itu, semua tentang jati dirinya, keluarganya, dan hidupnya hanyalah sebuah cerita. Aku tak habis pikir kenapa semua ini harus terjadi padaku. Sepanjang hidup ini hanya Reiko yang berani membohongiku, dia mempermainkan aku. Kini, aku tak tahu lagi apakah aku masih mencintainya atau tidak. Aku hanya merasa jika Reiko benar-benar mencintaiku, harusnya dia tahu apa yang aku inginkan. Dia bukan seperti yang kuharapkan. Harusnya dia mundur dan mundur bahkan tidak pernah ada didalam hatiku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar